Raih UN Tertinggi di Padang, Anak Tukang Ojek Simpang Indarung Diterima di ITB

"Saya bangga dengan Ayah yang dengan ikhlas, mau mencari penghasilan tambahan sepulang kerja. Ayah nyambi jadi tukang ojek, karena ingin saya fokus belajar biar berprestasi,"
Randi Kurniawan (tengah) diapit oleh kedua orangtuanya memperlihatkan piagam penghargaan dari berbagai lomba yang diikuinya. (istimewa)

Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi Randi Kurniawan untuk berprestasi. Meski berstatus sebagai anak tukang ojek, namun remaja 17 tahun itu berhasil meraih nilai Ujian Nasional (UN) tertinggi tingkat SMA di Kota Padang tahun 2017. Hebatnya lagi, dia lulus sebagai mahasiswa bidik misi di Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui jalur SNMPTN.

***

Kamis (4/5) pagi sekitar pukul 09.30 WIB, media ini menyambangi rumah Randi Kurniawan di Gang Melayu, No23, RT06/RW01, Kelurahan Batu Gadang, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumbar.

Tak sulit untuk mencari alamat rumahnya. Begitu memasuki Gang Melayu, warga di sana langsung menunjukan alamat rumah Randi.

Memang, dimata warga Gang Melayu, Randi merupakan anak yang cerdas, mudah bergaul, tak jumawa, sopan, dan hormat kepada orang tua.

“Kami salut dengan prestasi Randi. Sebagai warga Gang Melayu, kami turut berbangga karena Randi menjadi lulusan UN tertinggi di Padang,” kata salah seorang warga Gang Melayu.

Randi tak menampik apa yang disampaikan warga tentang dirinya. Kata Randi, sebagai anak yang berbakti kepada orangtua, sudah sepantasnya untuk bersikap menghormati.

“Orangtua dan guru di sekolah mengajarkan saya untuk menghormati yang lebih tua. Jadi menurut saya, sudah sewajarnya kita bersikap untuk saling hormat menghormati,” kata Randi saat ditemui di rumahnya.

Randi menyebut keberhasilannya meraih nilai UN tertinggi di Kota Padang, tidak terlepas dari peran kedua orangtuanya yang selalu mengingatkan dirinya untuk rajin belajar supaya kelak bisa membuat orangtua bangga.

Kendati demikian, prestasi tersebut diluar dugaannya, mengingat prestasinya di SMA Negeri 10 Padang tidak begitu mencolok.

Bahkan di semester I, dia hanya mampu meraih rangking 9 di kelas. Kemudian semester II hingga V, maksimal hanya masuk 5 besar.

“Selama di SMA, saya ... Baca halaman selanjutnya