Komisi III DPRD Plant Visit ke Semen Padang, Ini Kata Elvi Amri

Komisi III DPRD Padang kunjungan lapangan ke Pabrik Indarung VI
Komisi III DPRD Padang kunjungan lapangan ke Pabrik Indarung VI (Riki S/Klikpositif)

PADANG, KLIKPOSITIF - Komisi III DPRD Kota Padang bersama Dinas Lingkungan Hidup, mengunjungi pabrik PT Semen Padang , Kamis (29/3/2018) siang. Didampingi Kadep Komunikasi Perusahaan PT Semen Padang , Iskandar Z Lubis, rombongan tersebut memantau proses pembuatan semen dari awal sampai akhir, termasuk amdalnya.

Usai mengunjungi pabrik, Wakil Ketua Komisi III, Elvi Amri, mengatakan kunjungan ini merupakan aspirasi dari masyarakat sekitar lingkungan tentang dampak limbah chevron yang dimanfaatkan PT Semen Padang . Dari kunjungan tersebut, ternyata tidak ditemukan dampaknya, termasuk kebocoran filter.

"Pada kunjungan ini, kami melihat melalui monitor bagaimana proses awal sampai akhir, hingga ke amdalnya. Dari peninjauan kami, didapatkan informasi bahwa tidak ada dampak limbah chevron kepada lingkungan, dan kebocoran filter juga tidak ada," kata Elvi Amri kepada wartawan, Kamis siang.

Elvi Amri berkunjung ke Pabrik PT Semen Padang tidak sendirian. Selain dirinya, dalam kunjungan itu juga ikut serta Ketua Komisi III M Nuh, Sekretaris Komisi, Melinda Ros, dan dua orang anggota Komisi III, Wismar Panjaitan dan Ilham Maulana, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang Al Amin.

baca juga: Semen Padang Sosialisasikan Protokol The New Normal pada Pemangku Kepentingan

Lebih lanjut Elvi menyebut bahwa sebagai dewan yang melakukan pengawasan terhadap lingkungan dan amdal , Ia pun siap untuk mempertanggung jawabkan soal tidak adanya dampak limbah chevron dan kebocoran filter di pabrik PT Semen Padang .

"Kenapa kami berkata begitu, karena setelah kami tanya jawab dan lebih dipertegas lagi bagaiamana dampaknya apabila filter itu bocor? ternyata justru akan merugikan pabrik, merugiakan perusahaan," ujarnya.

baca juga: DPRD Padang Minta Pemko Tes Swab RT/RW Terjangkit COVID-19

"Jadi setelah kami analisa, tidak mungkin dilakukan perusahaan. Bahkan mereka ( Semen Padang ) menantang kami untuk mencek per menit, apalagi laporan per menit itu juga diberikan secara berkala ke Dinas Lingkungan Hidup," sambungnya.

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Padang, M Nuh menyebut bahwa penjelasan dari manajemen PT Semen Padang kepada dewan dan dinas cukup memuaskan dan penjelasan ini akan disampaikannya kepada masyarakat yang menyampaikan aspirasi kepada dewan.

baca juga: Sudah Siapkah Warga Kota Padang dengan Wacana New Normal?

"Ini akan kami sampaikan, supaya masyarakat tahu bagaimana prosesnya. Semen Padang salah satu perusahaan besar yang mempunyai standar ISO dalam operasionalnya. ISO terakhir itu 14000 dan ini terbaik. Namun demikian, kami tetap melakukan pengawasan dan peninjauan ke lapangan secara berkala," katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang, Al Amin, menyebut bahwa sebagai lembaga eksekutif yang mengawasi persoalan lingkungan, pihaknya selalu melakukan dua sistim pengawasan kepada PT Semen Padang , yaitu pasif dan aktif.

baca juga: SSB Semen Padang Serahkan Bansos Dampak Covid 19 dari APSSI

Pengawasan pasif, katanya, Semen Padang melaporkan secara berkala terkait pengendalian lingkungan. Sedangkan aktif, menindaklanjuti dengan cara peninjauan apa yang dilaporkan tersebut.

"Nah, hari ini merupakan pengawasan aktif, dan apa yang kami lihat hari ini ternyata sesuai dengan apa yang dilaporkan Semen Padang sebekumnya ke kita," ujar Al Amin.

Kadep Komunikasi Perusahaan PT Semen Padang , Iskandar Z Lubis menuturkan bahwa Semen Padang dalam operasionalnya, mengadopsi sistim tripel botton plant. Di mana, perusahaan tidak hanya fokus kepada profit, tapi juga lingkungan dan masyarakat.

"Kepada tiga hal tersebut, maka kita InsyaAllah Semen Padang konsisten. Terkait kebocoran pada filter, itu adalah kerugian buat perusahaan, karena itu adalah produk kami, dan perusahaan selalu mengantisipasi terjadinya kebocoran itu," katanya.

Ke depan, lanjut Iskandar, perusahaan akan terus berusaha meningkatkan teknologi untuk menangani emisi di lingkungan perusahaan. Saat ini, katanya, teknologi yang digunakan perusahaan dapat meminimalisir pengeluaran emisi ke udara. Bahkan, emisi yang dikeluarkan saat ini di bawah 10 meter kubik.

"Ambang batas emisi yang keluar ke udara itu adalah 70 meter kubik, sementara kita hanya 30 maksimum, dan prateknya di bawah 10. Kita juga melakukan pengontrolan secara terus menerus selama 24 jam penuh dengan," ujarnya.

Terkait mobilisasi limbah chevron, Iskandar juga menjelaskan bahwa Semen Padang hanya mendapatkan izin pengolahan, dan itu didapat setelah dilakukan verifikasi oleh pihak yang memberikan izin. Sedangkan untuk izin mengangkut, itu berada pada pihak lain yang bukan dari Semen Padang .

"Namun demikian, kami yakin bahwa mereka memenuhi peraturan yang diberikan agar mereka bisa dapat izin, dan tidak mungin juga mereka mengangkut limbah chevron tersebut kalau mereka tidak mempunyai izin," tutup Iskandar.(*)

Penulis: Riki S