Lestarikan Ikan Bilih, Semen Padang Teken Kerjasama dengan UBH

"Ikan bilih jenis mictacoleucus padangensis ini di dunia hanya satu, yaitu di Danau Singakarak. Ada yang menyerupai, tapi itu bukan bilih"
Bung Hatta akan terus memantau bagaimana perkembangan ikan bilih ini," tuturnya.

Disamping melestarikan ikan bilih, kata Deni melanjutkan, bagi Semen Padang sendiri, khususnya di Taman Kehati, tentunya pelestarian ikan bilih jenis mictacoleucus padangensis ini juga dapat menambah spesies yang ada di kawasan Kehati.

Dan penambahan spesies ini, juga sejalan dengan rogram Proper Emas 2020. "Saat ini Semen Padang masih Proper Hijau. Mudah-mudahan melalui pelestarian ikan endemik ini, maka target Proper Emas 2020 dapat terwujud," katanya.

Hal yang sama juga disampaikan Hafrijal Syandri. Guru besar Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta yang sudah meneliti ikan bilih lebih dari 30 tahun itu menyebut bahwa ikan bilih bisa bertahan di sungai yang ada di kawasan Taman Kehati Semen Padang ini, karena beberapa faktor.

Di antaranya, PH air berkisar antara 6,5 sampai 7,8 dan itu cocok untuk pengembangan ikan bilih. Kemudian, arus sungai dan oksigennya juga cukup. Artinya, secara fisik dan kualitas air di sungai ini hampir sama dengan Danau Singkarak.

"PH air sungai Taman Kehati ini sama dengan Singkarak karena sumber airnya juga sama. Sebab, sebagian air yang mengalir ke Danau Singkarak itu berasal dari perbukitan yang sebagian airnya juga megalir ke Indarung ini," katanya.

Terkait metode penangkapan ikan bilih yang dieksploitasi secara besar-besaran, Hafrijal pun menyebut bahwa metode itu sudah lama dilakukan oleh masyarakat sekitar, termasuk pemodal. Bahkan, terkesan ada pembiaran. 

Parahnya lagi, semakin ke depan metode itu juga terus berubah dan memperburuk situasi ikan bilih. Bahkan beberapa tahun belakangan ini, masyaraat menangkap ikan bilih tidak lagi menggunakan jaring, tapi bagan.

"Kalau dulu ... Baca halaman selanjutnya