Mahasiswa Riau Khawatir Serbuan Produk Asing

"Perusahaan ini telah berpengalaman menghasilkan produk-produk berkualitas sejak berdirinya 1910"
Puluhan mahasiswa Teknik Industri UIN Suska Riau mendengar paparan dari manajemen PT Semen Padang terkait proses produksi semen dari material hingga sampai ke tangan konsumen (Andhika D Khagen / KLIKPOSITIF )

PADANG, KLIKPOSITIF -- Puluhan mahasiswa Teknik Industri Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska Riau) mengunjungi PT Semen Padang dalam rangka studi industri, Selasa, 27 Desember 2016. Puluhan mahasiswa tersebut, disambut sejumlah staf perusahaan semen paling Indonesia itu di Gedung Serba Guna (GSG) PT Semen Padang.

Baca: Mahasiswa Teknik Industri UIN Suska Riau Kunjungi Semen Padang

Dalam kunjungannya, mahasiswa diberikan pengetahuan proses produksi semen dari material hingga sampai ke tangan konsumen. Salah seorang staf bernama Ari Surya Cipta mengatakan, Semen Padang memilih bahan baku (limestone, silica stones, clay, irond sand) dari kualitas terbaik.

"Perusahaan ini telah berpengalaman menghasilkan produk-produk berkualitas sejak berdirinya 1910," katanya dihadapan 40 mahasiswa teknik UIN Suska Riau.

Puluhan mahasiswa dari negeri "Lancang Kuning" itu kemudian diberikan kesempatan bertanya dalam sesi tanya jawab. Salah seorang mahasiswi bernama Azizah kemudian melemparkan pertanyaan terkait cara Semen Padang menghadapi persaingan seiring serbuan produk asing, terutama Cina.

"Saat ini sudah sangat banyak semen asing masuk masuk Indonesia. Bagaimana cara Semen Padang bertahan dengan serbuan produk asing ini, terutama Cina," tanya Aziza.

Terkait pertanyaan tersebut, Staf Biro Humas PT Semen Padang Ari Surya Cipta, menyebut saat ini industri semen memasuki persaingan yang sangat ketat. Ia mencontohkan Cina. Di Cina, total produksi semen sebanyak 3 miliar ton per tahun. Badingkan dengan Indonesia yang kebutuhannya hanya 90 juta ton per tahun.

"Saking banyaknya produksi semen di Cina, membuat Cina harus ekspansi menjual produknya ke Indonesia, karena Indonesia adalah pasar yang empuk," ujarnya.

Untuk mengatasi persaingan ini, ... Baca halaman selanjutnya