60 Tahun Nasionalisasi, Semen Padang Hadapi Banyak Tantangan

Dirut PT Semen Padang Yosviandri (kanan) didampingi Derektur Keuangan Tri Hartono Rianto dan Direktur Operasional Firdasu, memotong kue HUT ke 60 Pengambilalihan Semen Padang dari tangan Belanda
Dirut PT Semen Padang Yosviandri (kanan) didampingi Derektur Keuangan Tri Hartono Rianto dan Direktur Operasional Firdasu, memotong kue HUT ke 60 Pengambilalihan Semen Padang dari tangan Belanda (ist)

PADANG, KLIKPOSITIF - Tanggal 5 Juli 2018 bertepatan dengan 60 tahun pengambilalihan PT Semen Padang dari tangan pemerintah Belanda . Pada 18 Maret 1958 Semen Padang yang dulu bernama NV Padang Portland Cement Maatschappij (PPCM), secara resmi diserahkan kepada bangsa Indonesia.

Penyerahan itu sebagai amanat Undang Undang No.86 Tahun 1958 tentang Nasionalisasi. Penyerahan PPCM dilakukan oleh Hooffadministrateur PPCM Ir.Van der Land kepada J Sadiman yang bertindak atas nama Direktur Badan Penyelenggara Perusahaan Industri Dasar dan Tambang) Kementerian Perindustrian Dasar dan Tambang.

baca juga: Webinar Klaster Keluarga Covid-19, Dirut Semen Padang Ajak Insan Perusahaan untuk Ingatkan Keluarga

Sejak itu, perusahaan-perusahaan strategis bangsa dikelola oleh putra-putri terbaik bangsa. Memasuki HUT ke-60 nasionalisasi, PT Semen Padang menghadapi banyak tantangan.

Ketangguhan perusahaan yang didirikan pada 18 Maret 1910 atau kini berusia 108 tahun ini kembali diuji untuk melewati berbagai dinamika dalam kancah persemenan dan industri nasional.

baca juga: Semen Padang Umumkan Pemenang SPIE 2019-2020; Analisa Benefit Mencapai Rp46,1 Miliar

Seperti diakui Direktur Utama PT Semen Padang Yosviandri, tantangan dihadapi tahun ini di antaranya, over supply dimana rata-rata produksi semen hanya terserap sekitar 66 persen. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung sampai dengan 10 tahun ke depan.

Produsen asing khususnya semen Cina semakin gencar memasuki pasar dalam negeri. Kemudian, perusahaan nasional juga dihadapkan dengan tantangan baru denga keluarnya kebijakan Permendag 07 tahun 2018 tentang diperbolehkannya impor klinker dan semen ke Indonesia.

baca juga: Di SPH, Tersedia Fasilitas Lengkap dan Peralatan Canggih untuk Layanan Medical Check Up

Kemudian, harga pokok semakin meningkat dengan naiknya harga BBM dan batubara dunia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar juga melemah dan berdampak pada tingginya harga sparepart, persediaan dan peralatan impor.

"Dampak yang paling kami rasakan saat ini adalah turunnya laba perusahaan dalam lima tahun terakhir," kata Yosviandri saat Upacara HUT ke-60 Pengambilalihan Semen Padang dari tangan Belanda yang digelar di Plaza Kantor Pusat Semen Padang , Kamis, 5 Juli 2018.

baca juga: Semen Padang Kembali Ekspor Semen dan Klinker

Pada 2012 Semen Padang mencatatkan laba bersih sebesar Rp927,69 miliar, pada 2013 meningkat menjadi Rp1,04 triliun. Pada 2014 turun menjadi Rp927,61 miliar. Paa 2015 turun menjadi Rp722,83 miliar. Pada 2016 sedikit naik menjadi Rp723,80 miliar. Sedangkan pada tahun 2017 turun menjadi Rp498,76 miliar.

Pada 2013 menjadi masa keemasan bagi industri semen nasional. Pada saat itu hanya ada 7 pemain semen di tingkat nasional. Kini menjadi 15 pemain, tak hanya dari pemodal dalam negeri, namun juga perusahaan semen top dunia. Para pemain baru itu juga meningkatkan kapasitas produksi.

Di sisi lain, demand nasional tidak tumbuh positif seperti yang diharapkan. Kondisi ini diperparah kenaikan harga pokok produksi. Ketika terjadi perang harga di pasaran, sejumlah pemain ada yang memilih menurunkan harga, dan bahkan ada pula yang me-lay off karyawan.

Yosviandri mengakui perjalanan PT Semen Padang sebagai perusahaan semen pertama di Asia Tenggara yang telah berusia lebih dari satu abad tentunya tidak selalu melalui jalan yang mulus.

Dinamika yang terjadi dari internal maupun eksternal turut mewarnai. "Kami berharap di 2018 pencapaian laba bersih bisa meningkat di atas tahun 2017," kata Yosviandri yang menahkodai Semen Padang sejak 24 Januari 2018.

Berbagai strategi dipancang manajemen baru Semen Padang bersama segenap insan perusahaan untuk kembali membangkitkan perusahaan yang berpusat di Indarung, Kota Padang ini.

"Upaya-upaya efisiensi yang kita lakukan menjadi harapan utama terdongkraknya kinerja keuangan. Namun untuk bisa kembali memenangkan persaingan tidak cukup hanya berhemat. Perlu muncul ide-ide kreatif untuk meningkatkan pendapatan perusahaan dengan mengoptimalkan aset – aset perusahaan," kata pria kelahiran Padang tahun 1968 itu.

Di internal perusahaan, Yosviandri mendorong jajarannya untuk terus melakukan berbagai inovasi. "Diskusi-diskusi yang bermuara pada pengumpulan inovasi-inovasi sangat kami dukung. Manfaatkan segala fasilitas yang disediakan perusahaan. Silahkan menggunakan rumah knowledge sebagai homebase terciptanya ide-ide kreatif yang dikoordinir oleh biro inovasi," ajaknya kepada seluruh karyawan Semen Padang pada Upacara HUT ke-60 pengambilalihan perusahaan. (*)

Penulis: Riki