Diberdayakan Semen Padang, Gang Melayu Batu Gadang Jadi Sentra Produksi Masker

Zurlina Roza (kiri) bersama Yuliarti (kanan) saat ditemui di Gang Melayu, Kelurahan Batu Gadang
Zurlina Roza (kiri) bersama Yuliarti (kanan) saat ditemui di Gang Melayu, Kelurahan Batu Gadang (Riki S)
Berawal dari 'menyulap' kain perca menjadi masker untuk kebutuhan keluarga, kini Ibu-ibu penjahit di Gang Melayu punya usaha baru memproduksi masker dengan kualitas bagus. Bahkan usaha tersebut menjadi alternatif untuk mengais rezeki di tengah pandemi Covid-19.

Laporan Riki Suardi-Padang

Pandemi Covid-19 membuat tatanan masyarakat dunia berubah, termasuk Indonesia. Bahkan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang menjadi solusi bagi Pemerintah Indonesia dalam memutus rantai penyebaran Covid-19, rupanya berimbas kepada penurunan ekonomi masyarakat, karena pemberlakuan PSBB tersebut, banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaannya.

baca juga: Walikota Padang: Semen Padang Telah Menunjukkan Komitmen Memajukan Perekonomian

Hal inilah yang dirasakan Yuliarti, warga Gang Malayu, Kelurahan Batu Gadang , Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang. Wanita berusia 45 tahun itu berujar bahwa dampak dari Covid-19 ini membuat pendapatan suaminya yang berprofesi sebagai ojek online (Ojol) terjun payung, karena Ojnol dilarang membawa penumpang.

Ibu-ibu penjahit di Gang Melayu tengah menjahit masker untuk dijual keberbagai instansi.
Ibu-ibu penjahit di Gang Melayu tengah menjahit masker untuk dijual keberbagai instansi.

"Biasanya, uang yang didapat suami dari Ojol cukup untuk biaya kebutuhan keluarga, seperti beli beras, sambal dan kebutuhan dapur lainnya, termasuk biaya sekolah anak. Tapi sejak adanya wabah Covid-19 dan pemberlakukan PSBB, semuanya 'zonk' alias nol rupiah," ujar Yuliarti saat ditemui KLIKPOSITIF .com di kediamannya, Senin, 15 Juni 2020 siang.

baca juga: Semen Padang Ajak Karyawan Terapkan Protokol Kesehatan

Kendati begitu, lanjutnya, sebagai seorang istri, dirinya harus 'memutar otak' untuk bisa membantu suami dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Ia pun kemudian memberdayakan mesin jahit miliknya untuk membuat masker untuk dijual.

Seorang oenjahit masker di Gang Melayu
Seorang oenjahit masker di Gang Melayu

"Alhamdulillah, pendapatan dari menjahit masker ternyata cukup menjanjikan, karena bisa untuk memenuhui kebutuhan keluarga," katanya.

baca juga: Kuliah di ITB, Anak Tukang Ojek di Alahan Panjang Itu Penerima Beasiswa Semen Padang

Sama halnya dengan Zurlina Roza (44), warga Gang Melayu lainnya yang memanfaatkan pandemi Covid-19 dengan memproduksi masker . Kata dia, sebelum memproduksi masker secara massal, awalnya ia hanya seorang penjahit pakaian. Namun sejak wabah virus corona melanda Kota Padang, usaha jahitannya nyaris gulung tikar, karena tidak ada orderan.

Salah seorang penjahit masker di Gang Melayu memperlihatkan masker yang sudah diproduksi.
Salah seorang penjahit masker di Gang Melayu memperlihatkan masker yang sudah diproduksi.

Parahnya lagi, pendapatan suaminya sebagai sopir truk juga tak dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, karena sejak wabah corona tersebut, pendapatan suaminya menurun, karena muatan yang diangkut tidak ada. Begitu juga dengan pemberlakuan PSBB yang juga berdampak kepada meningkatnya kebutuhan rumah tangga.

baca juga: Peringati Hari Anti Narkoba Internasional, Semen Padang Gelar Lomba Puisi dan Poster

"Sejak pandemi Covid-19 dan pemberlakuan PSBB, kebutuhan biaya dapur meningkat, karena harga kebutuhan dapur di pasaran juga meningkat, termasuk kebutuhan sekolah anak-anak saya. Sebab, mereka harus belajar online dari rumah dan tentunya mereka butuh paket data internet yang cukup agar mereka bisa terus belajar," katanya.

Wanita yang akrab disapa Roza itu menuturkan bahwa awalnya, masker yang diproduksi hanya untuk kebutuhan keluarga dan bahannya berasal dari kain perca (sisa guntingan yang berasal dari pembuatan pakaian, kerajinan atau produk tekstil lainnya,red). Karena ada beberapa tetangga yang melirik dan minta dibuatkan, Ia pun menyanggupinya. "Satu masker saya jual Rp5000/pcs," bebernya.

Dilirik Semen Padang

Selain tetangga atau lingkungan masyarakat Gang Melayu, rupanya Semen Padang yang merupakan perusahaan semen di Kota Padang, juga ikut melirik masker buatan ibu-ibu Gang Melayu, Batu Gadang tersebut.

Bahkan, dimotori oleh Pelatih Marching Band Semen Padang (MBSP) Fuji Raharja, Perusahaan plat merah itu ikut serta memberdayakan ibu-ibu penjahit di Gang Melayu untuk memenuhui kebutuhan masker di lingkungan

"Saat ini, ada enam orang ibu-ibu penjahit yang tinggal di Gang Melayu yang kami bina, termasuk dua diantaranya Zurlina Roza dan Yuliarti. Mereka kami," kata pelatih MBSP Fuji Raharja didampingi Sekretaris Umum MBSP Rafiko Maar.

Menurut Fuji, Gang Melayu saat ini bisa dikatakan sebagai sentra pembuatan masker di Kota Padang, karena dalam sehari, ibu-ibu penjahit di Gang Melayu itu bisa memproduksi masker hingga 500 pcs.

"Informasi dari pelatih MBSP, Fuji Raharja, sejak April hingga sekarang, sudah ada sekitar 12 ribu masker yang sudah diproduksi oleh ibu-ibu penjahit Gang Malayu ini," ujarnya.

Belasan ribu masker yang diproduksi oleh penjahit di Gang Melayu tersebut, lanjutnya, selain untuk memenuhui kebutuhan Semen Padang , sebagian dari jumlah tersebut juga sudah terjual ke pelbagai intansi.

Di antaranya, Hotel Rocky dan Foresthree, termasuk ke Rumah Sakit Jiwa AB Sa'anin Padang juga ikut memesan masker buatan ibu-ibu oenjahit di Gang Melayu.

"Selain instansi, juga ada beberapa komunitas yang pesan masker ke saya maupun ke MBSP. Saat ini, beberapa komunitas tengah mengantri untuk menunggu pesanan masker dari kami, karena produksinya masih berjalan," bebernya.

Fuji juga menyebut bahwa dirinya melalui MBSP ikut memotori ibu-ibu penjahit di Gang Melayu, termasuk membantu pemasaran masker yang mereka produksi, karena MBSP punya kekuatan untuk membantu mereka.

"Insya Allah, kami di MBSP bisa menyasar jaringan yang cukup luas dalam mempromosikan masker yang mereka produksi," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Unit Humas & Kesekretariatan PT Semen Padang Nur Anita Rahmawati mengatakan, perusahaan memberdayakan ibu-ibu penjahit di Gang Melayu untuk membuat masker , karena beberapa faktor.

Di antaranya, sebut Anita, mereka punya potensi, karene sebelumnya mereka sudah memproduksi masker untuk keluarga dan lingkungan masyarakat Gang Melayu dan kualitas masker mereka sangat bagus dengan bahan dasar kain catton.

Kemudian, pangsa pasarnya jelas dan usaha ini menurut Anita, bukan usaha musiman. Sebab, masker sudah menjadi kebutuhan masyarakat sejak terjadinya pandemi Covid-19, karena masker merupakan salah satu Alat Pelindung Diri (APD) dari wabah Covid-19.

Bahkan sejak pandemi Covid-19, Semen Padang juga telah memesan bantuan masker sekitar 7000 pcs kepada masyarakat. Ribuan masker itu, merupakan produksi dari ibu-ibu penjahit di Gang Melayu. Kemudian di era new normal ini, penggunaan masker juga sudah menjadi keharusan bagi masyarakat.

"Menggunakan masker merupakan salah satu protokol new normal. Setiap tempat keramaian dan instansi, termasuk Semen Padang , harus menerapkan protokol new normal. Jadi, seluruh karyawan dan outsorcing, termasuk tamu perusahaan, wajib pakai masker ," ungkap Anita.

Faktor selanjutnya, ibu-ibu penjahit di Gang Melayu itu merupakan masyarakat yang terdampak Covid-19. Bahkan, tambah Anita, beberapa dari ibu-ibu penjahit tersebut ada yang suaminya kehilangan pekerjaan karena wabah pandemi Covid-19.

"Jadi, sudah kewajiban kami di Perusahaan untuk memberdayakannya, apalagi mereka juga merupakan bagian dari masyarakat lingkungan perusahaan Semen Padang ," pungkas Anita.(*)

Editor: Riki Suardi