Kuliah di ITB, Anak Tukang Ojek di Alahan Panjang Itu Penerima Beasiswa Semen Padang

Adinda Aisyah Rahman (tengah) berfoto bersama kedua orangtuanya di halaman rumahnya di Alahan Panjang.
Adinda Aisyah Rahman (tengah) berfoto bersama kedua orangtuanya di halaman rumahnya di Alahan Panjang. (Ist)
PADANG, KLIKPOSITIF -

Terlahir sebagai anak tukang ojek di kawasan Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat, Adinda Aisyah Rahman, anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Afrizon dan Aslinda Dewi, punya keinginan kuat untuk memperbaiki ekonomi keluarga.

Salah satu upaya untuk mewujudkan keiginannya itu, adalah melalui pendidikan. Karena menurut dara kelahiran Talang, 10 November 2002 tersebut, pendidikan tidak hanya dapat merubah mindset seseorang, tapi juga menjadi pintu gerbang menuju kesuksesan dan pendidikan juga memberikan peluang kerja yang lebih baik nantinya.

baca juga: Berpartisipasi Aktif Tanggulangi Dampak Covid-19, Semen Padang Terima Penghargaan dari Pemko Padang

"Jaman sekarang ini mana ada orang yang tidak sekolah bisa sukses. Semuanya harus dimulai dari pendidikan. Pendidikan merupakan pintu gerbang menuju sukses," kata Adinda Aisyah Rahman, mahasiswi semeter III, Jurusan Teknik Geofisika, Fakultas Perminyakan dan Pertambangan Institut Teknologi Bandung ( ITB ), Kamis (6/8/2020)

Wanita yang akrab disapa Dinda itu juga mengatakan bahwa saat ini, dirinya memang belum bisa membuktikan bahwa pendidikan adalah pintu gerbang menuju kesuksesan. Namun yang pasti, kata Dinda, hampir semua CEO perusahaan sukses karena diawali pendidikan yang baik.

baca juga: Semen Padang Adakan Webinar Cegah COVID-19 untuk Istri Karyawan

Seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Anwar Makarim contohnya. Sebelum menjadi menteri pada Kabinet Indonesia Maju Pwmwrintahan Presiden Joko Widodo-K.H Ma'ruf Amin, kata Dinda, Nadiem dari kecil sampai tumbuh besar hingga menjadi CEO Gojek, diawali dari pendidikan yang berkualitas bahkan sampai ke Amerika Serikat.

"Jadi, sebagai anak dari keluarga kurang mampu, saya tentu harus bisa mewujudkan keinginan untuk memperbaiki ekonomi keluarga, dan saya pun juga punya cita-cita menjadi CEO migas. Maka dari itulah saya kuliah di jurusan Teknik Geofisika ITB , agar kelak saya bisa mewujudkan cita-cita saya tersebut," ujarnya.

baca juga: Tim Baharkam Polri Optimis Semen Padang Kantongi Sertifikat SMP dan Raih Predikat Gold

Paling tidak, katanya melanjutkan, setamat dari ITB dirinya bisa diterima bekerja di perusahaan Migas luar negeri, supaya bisa memperbaiki ekonomi keluarga, karena Ayah hanya seorang tukang ojek dan Ibu yang berasal dari Lubuk Kilangan, Kota Padang, jualan lontong satu kali seminggu di Pasar Alahan Panjang.

"Dan tentunya sebagai anak, saya tidak ingin Ayah dan Ibu terus-terusan banting tulang untuk kebutuhan kami sekeluarga," imbuhnya. Sebelum kuliah di ITB , Dinda menjalani pendidikan di mulai dari SD Negeri 20 Koto Gaek Guguk, Sukarami, Kabupaten Solok.

baca juga: Supervisi Implementasi Sistim Manajemen Pengamanan, Tim Mabes Polri Kunjungi Semen Padang

Kemudian lanjut ke SMP Negeri 2 Kota Solok dan SMA Negeri 1 Kota Solok. Meski terlahir dari keluarga kurang mampu, tapi sejak SD sampai SMA, Dinda pun merupakan siswa yang berprestasi di sekolahnya. Bahkan ketika SD, Dinda selalu jadi juara kelas dan pada saat duduk di kelas IV, Dinda pun meraih juara umum di sekolahnya.

Di luar sekolah, Dinda juga meraih Juara II Olimpiade Matematika dan Juara I LMP Matematika tingkat kecamatan dan meraih nilai Try Out tertinggi tingkat kecamatan dan provinsi dengan nilai 100 untuk mata pelajaran Matematika. Saat SMP, prestasi yang luar biasa diraih oleh Dinda. Bahkan, Ia masuk sebagai satu dari 20 siswa akselerasi di sekolah. "Jadi saya di SMP itu hanya 2 tahun," ujar Dinda.

Selain siswa akselerasi, prestasi lain di SMP adalah sebagai finalis lomba Matematika tingkat Provinsi Sumatera Barat yang digelar di SMP Negeri 2 Kota Solok. "Selain masuk sebagai finalis lomba matematika, saya juga sering dikirim guru untuk mewakili sekolah pada lomba matematika yang digekar di UNP dan lomba Fisika yang digelar Unand," kata dara yang tinggal di Perumnas Batu Bagiriak, Alahan Panjang, Blok T No 8, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok itu.

Prestasi Dinda tidak hanya sampai bangku SMP. Di SMA Negeri 1 Solok, Dinda juga berhasil membuktikan prestasinya dengan meraih peringkat 10 besar di kelas. Kemudian, dia pun juga dipercaya oleh guru untuk mewakili SMA Nwgeri 1 Solok pada lomba debat Bahasa Inggris tingkat Provinsi Sumatera Barat yang di gelar di SMA Negeri 1 Bukittinggi.

"Selain itu, juga dikirim oleh guru untuk mewakili sekolah pada Olimpiade Pasar Modal tingkat Provinsi Sumatera Barat yang digelar di UNP, dan lomba Pekan Konstitusi tingkat Sumatera yang diadakan oleh Kementerian Hukum dan Ham pada tahun 2017 dan pada tahun 2018, masuk 30 besar olimpiade kedokteran yang digelar Unand, dan lomba tersebut diikuti sekitar 400 pelajar dari berbagai sekolah," bebernya.

Tamat SMA tahun 2019, Dinda mengakui bahwa kampus ITB merupakan tujuan awalnya untuk melanjutkan pendidikan, karena di kampus yang berada di Kota Kembang itu, ada program studi yang berkaitan dengan migas, yaitu Teknik Geofisika yang mempelajari tentang cara eksplorasi bahan atau minyak bumi yang ada di dalam bumi dan fenomena alam yang terjadi di dalam bumi.

Dinda juga mengakui bahwa tidak mudah bagi dirinya untuk mencapai tujuan kuliah di ITB . Selain mengikuti bimbel untuk masuk perguruan tinggi di Padang, sejak kelas I SMA, Dinda sudah mulai melakukan persiapan dengan mengambil jurusan IPA. Kemudian pas lulus SMA, Ia pun ikut seleksi masuk ITB melalui jalur SNMPTN. Sayangnya, usaha masuk ITB melalui jalur mahasiswa undangan itu tidak membuahkan hasil.

"Meski gagal masuk ITB melalaui SNMPTN, saya tidak langsung menyerah begitu saja. Saya pun kemudian mengikuti seleksi masuk ITB melalui jalur SBMPTN dan saya lulus sebagai mahasiswa baru ITB pada Fakultas Perminyakan dan Pertambangan jurusan Teknik Geofisika. Kemudian, saya pun juga terdaftar di ITB sebagai mahasiswi bidik misi," ungkap Dinda.

Beasiswa Rutin

Sebagai mahasiawi ITB yang berasal dari keluarga kurang mampu dengan Ayah yang bekerja sebagai tukang ojek dan ibu pedagang lontong di Pasar Alahan Panjang, tentu beasiswa bidik misi yang Ia terima cukup membantu kebutuhannya selama kuliah di ITB .

Belum lagi bantuan dari Semen Padang melalaui program beaaiswa rutin sebesar Rp1,5 juta yang diterima tiap bulannya.

"Alhamdulillah, beasiswa bidik misi dan bantuan dari Semen Padang cukup membantu kebutuhan saya selama kuliah di ITB . Untuk itu, saya berterimakasih kepada Semen Padang yang telah memberikan beasiswa bulanan sejak saya masuk sebagai mahasiswa baru ITB . Jadi, sudah masuk tahun ke dua saya dapat beasiswa dari Semen Padang ," katanya.

Ayah Dinda bernama Afrizon tidak menyangka anaknya bisa kuliah di ITB , ditambah lagi diterima sebagai mahasiswi bidik misi dan juga mendapatkan bantuan beasiswa rutin per bulan dari Semen Padang , dan tentunya besiswa tersebut sangat membantu kebutuhan anaknya selama kuliah di ITB .

"Saya bersyukur sekali anak saya diterima di ITB , dan dia juga mendapat bidik misi dan juga beasiswa dari Semen Padang , karena kalau tidak, tentu saya akan kesulitan untuk menguliahkan anak saya, karena saya hanya tukang ojek yang berpanghasilan paling banyak Rp75 ribu sehari. Terimakasih Semen Padang ," katanya.

Kepala Unit CSR Semen Padang Muhamad Ikrar mengatakan bahwa beasiswa rutin perbulan yang diterima Adinda Aisyah Rahman merupakan beasiswa Prestatif Anak Negeri dan bagian dari pilar Semen Padang Cerdas dan beasiswa ini sudah berjalan sejak tahun ajaran 2017/2018.

"Program beasiswa ini diberikan untuk putra-putri terbaik yang berasal dari lingkungan perusahaan dan program Prestatif Anak Negeri ini merupakan rekomendasi dari KAN Lubuk kilangan. Dan setiap calon penerima beasiswa kami survei kelayakannya dan juga kami evaluasi tiap tahunnya," kata Ikrar.

Beasiswa Prestatif Anak Negeri ini diberikan hanya untuk putra-putri terbaik yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri terbaik di Indonesia yang berada di luar Pulau Jawa, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Universitas Padjajaran, Universitas Diponegoro, ITS dan ITB .

"Besaran beasiswa yang diberikan Rp1,5 juta perbulan," ujarnya.

Selain beasiswa Prestatif Anak Negeri, Semen Padang , punya program beasiswa lainnya yang juga merupakan bagian dari pilar Semen Padang Cerdas, yaitu beasiswa berkelanjutan dari SD sampai perguruan tinggi yang diberikan setiap semester untuk masyarakat Kota Padang dan lingkungan perusahaan.

Juga ada beasiswa dhuafa untuk pelajar yang sekolah di Yayasan Igasar Semen Padang , serta beasiswa untuk SD Bustanul Ulum, Batu Busuk dan juga memberikan bantuan beasiswa bagi mahasiswa program pasca sarjana Unand untuk program studi Fisipol dengan harapan agar mereka dapat memberdayakan masyarakat kurang mampu.

"Selain itu, Semen Padang juga mensupport MTs Lubuk Kilangan melalui Forum Nagari yang bekerjasama dengan UPZ Baznas Semen Padang . Berbagai program beasiswa dan bantuan pendidikan itu diberikan, karena pendidikan dapat merubah nasib suatu kaum dan Semen Padang selalu konsisten dengan program beasiswa ini," pungkasnya.(*)

Editor: Riki Suardi