COVID; Selain Serang Imun Tubuh, Juga Berimbas ke Obesitas

dr.Juwalita Surapsari, M,Gizi,SpGK dari Rumah Sakit Pondok Indah berbagi tips kesehatan melalui webinar yang digelar Semen Indonesia Group (SIG) dengan tema
dr.Juwalita Surapsari, M,Gizi,SpGK dari Rumah Sakit Pondok Indah berbagi tips kesehatan melalui webinar yang digelar Semen Indonesia Group (SIG) dengan tema \"NGOPI (Ngobrolin Pandemi) #5: Ayo Hidup Sehat\". (Tangkapan layar webinar NGOPI (Ngobrolin Pandemi) #5)
PADANG, KLIKPOSITIF

- Dokter Juwalita Surapsari, M,Gizi,SpGK dari Rumah Sakit Pondok Indah berbagi tips kesehatan melalui webinar yang digelar Semen Indonesia Group (SIG) dengan tema "NGOPI (Ngobrolin Pandemi ) #5: Ayo Hidup Sehat", Jumat (27/11/2020) lalu.

Dalam webinar tersebut, dokter spesialis gizi klinik itu menyampaikan bahwa perilaku tidak sehat, kurang olahraga, merokok, minum alkohol dan stres dapat menyebabkan terjadinya obesitas, tekanan darah, gula darah dan kolestrol, yang tentunya bisa menyebabkan terjadinya penyakit jantung, stroke dan diabetes.

baca juga: Rinold Thamrin, Mantan Dirut PT KSSP Terpilih sebagai Ketum FKKSP Group

Oleh sebab itu, ia pun mengajak untuk tidak merokok dan jauhi minuman alkohol, serta rutin berolahraga. "Olahraga secara rutin dapat mengelola stres, karena stres juga dapat mempengaruhi tekanan darah, namun yang paling beresiko, adalah obesitas," kata dr.Juwalita Surapsari.

COVID-19, kata dia, tidak hanya menyerang imun tubuh, tapi juga dapat menyebabkan terjadinya obesitas, seperti yang dialami oleh Perdana Menteri Inggris yang mengalami peningkatan berat badan mencapai 26 kg saat menjalani isolasi karena positif COVID-19.

baca juga: SLTP Mulai Sekolah Tatap Muka, Bupati Tanah Datar Tetap Ingatkan 3M

"Obesitas itu terjadi, karena kurang olahraga. Padahal setiap hari, kalori yang masuk ke tubuh melalui makanan, itu harus dikeluarkan tubuh melalui olahraga. Untuk olahraga seperti lari selama 10 menit, dapat membakar kalori hingga 100 kcals, apalagi kalau kalori yang masuk ke tubuh lebih dari itu, berapa lama kita harus berolahraga," ujarnya.

Selain berolahraga, Juwalita juga menyampaikan cara menurunkan berat badan bagi penderita obesitas. Pertama, ukur tinggi dan berat badan. Kemudian, tentukan target yang realistis dan jangan berlebihan. Misalnya dalam seminggu turun 0,5 kg atau 2 kg dalam 1 bulan.

baca juga: Termasuk Hoyak Tabuik, Ditengah Pandemi Pemko Pariaman Agendakan Puluhan Kegiatan Wisata

"Jangan sampai langsung 20 kg dalam sebulan, itu tidak realistis," tuturnya. Kedua, konsumsi gizi seimbang dengan mengurangi konsumsi makanan bergula, garam dan berminyak. Untuk gula, idealnya dalam sehari hanya 4 sendok makan, garam 1 sendok dan minyak 5 sendok.

Untuk lauk pauk dan susu, boleh dikonsumsi 2 porsi dalam sehari ditambah minim air putih 8 gelas dalam sehari. Konsumsi makanan rendah kalori seperi sayur-sayuran 3-4 porsi dalam sehari dan buah-buahan 2-3 porsi sehari, serta batasi mengkonsumsi karbondioksida seperti nasi, ubi dan kentang.

baca juga: Ini Kata DLH Padang Tentang Daya Tampung TPU Khusus Covid-19 di Bungus

"Di Indonesia, orang makan nasi itu pakai kentang. Padahal, kentang dan nasi itu sama-sama karbon. Jadi kalau diet, sebaiknya makan nasi tanpa kentang," tuturnya. Untuk lebih mudahnya, kata Juwalita melanjutkan, bisa melalaui aplikasi my food journal.

"Melalui aplikasi tersebut, kita tentu dengan mudah melakukan pencatatan terhadap kalori yang masuk atas makanan yang kita konsumsi, dan kita juga akan tahu apa yang akan kita makan setiap harinya," imbuh Juwalita.

Saat ini, sebut Juwalita, banyak makanan dan minuman kekinian yang tentunya sangat menggugah selera. Salah satunya, kopi yang terbagi beberapa varian, seperti Cappuccino, Cafe Latte, Caramel Macchinato, dan Java Chip Frappuccino.

Berbagai varian kopi itu adalah minuman dengan kalori tinggi. Seperti Cappuccino misalnya, kalorinya mencapai 120 kcals, Cafe Latte 190 kcal, Caramel Macchinato 250 kcals, dan Java Chip Frappuccino 350 kcals.

"Kalau untuk diet, berbagai jenis varian kopi itu tidak disarankan untuk diminum, kecuali Iced Americano atau es kopi yang merupakan minuman tanpa kalori," ujarnya.

Sementara itu, Direktur SDM dan Hukum SIG Tina T Kemala Intan diujung webinar berharap agar apa yang disampaikan dr.Juwalita Surapsari, dapat diterapkan oleh seluruh insan perusahaan, mauoun keluarganya, agar tubuh tetap sehat dan bugar, apalagi pada saat pandemi COVID-19 sekarang ini.

"Jadi, itulah harapan dari manajemen SIG, kenapa webinar NGOPI #5 ini digelar. Kalau insan SIG kuat dan sehat, maka akan berdampak baik terhadap kemajuan perusahaan. Untuk itu, kepada seluruh insan perusahaan maupun keluarga, implementasikanlah apa yang disampaikan oleh dr.Juwalita ke dalam kehidupan sehari-hari," katanya.(*)

Editor: Riki