Cegah Radikalisme, Peneliti dari IAIN Bukittinggi Sarankan Hal Ini

Ilustrasi Densus 88
Ilustrasi Densus 88 (KLIKPOSITIF/Hatta Rizal)

BUKITTINGGI , KLIKPOSITIF - Peneliti Gerakan-Gerakan Radikal dan Fundamentalisme di Indonesia, Dr.Novi Hendri, M.Ag menyebut, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang "terjangkit" paham radikalisme .

Novi mengatakan, faktor sosial, ekonomis dan politik yang tidak menguntungkan menjadi faktor mengapa seseorang terpapar radikalisme .

baca juga: Pembangunan Replika Surau Tuo di Lezatta Sudah Rampung, Anak-anak Bisa Belajar Tahfiz dengan Gratis

"Desakan kebutuhan hidup terlebih di masa pandemi, menuntut seseorang melakukan berbagai cara, termasuk melakukan tindakan radikalisme ketika ditopang kondisi politik yang tidak mendukung," ungkapnya, Rabu 16 Juni 2021.

Kondisi ini, katanya, bisa memotivasi munculnya semangat fundamental agama, sehingga orang yang terpapar paham akan melakukan apapun dalam kerangka jihad.

baca juga: Fakultas Pariwisata UM Sumbar Gelar Masta Bagi Mahasiswa Baru

"Keterbatasan pengetahuan masyarakat dalam memahami agama, bukan hanya Islam, memungkinkan sikap radikal tersebut muncul pada agama-agama selain Islam," ucap Wakil Rektor II IAIN Bukittinggi ini menjelaskan.

Keterbatasan dalam memahami agama telah memunculkan sikap fanatisme berlebihan, klaim kebenaran serta menganggap mereka yang berbeda pemahaman adalah salah. Kesalahan-kesalahan atau kemaksiatan yang terjadi harus diluruskan, tambah Novi Hendri.

baca juga: Lurah Campago Guguak Bukittinggi Bulek Ekspos Pembangunan di Wilayahnya

Novi menyebut, fenomena semacam ini sangat mungkin terjadi di Sumatera Barat khususnya di Bukittinggi , karena mayoritas beragama Islam, di sisi lain berbagai prilaku menyimpang seringkali terjadi di samping pribadi /kelompok /ormas yang memiliki pemahaman sangat sempit terhadap agama juga tumbuh serta berkembang.

Ia mengatakan, untuk mencegahnya dapat dilakukan dengan dua cara yakni disengagement atau konter radikalisme .

baca juga: 3 Bawaslu Daerah Sepakat Mou dengan Cabdin Wilayah 1 Sumbar

" Artinya suatu proses di mana individu atau kelompok tidak lagi terlibat dalam aksi kekerasan. Hal ini dilakukan sedini mungkin melalui proses pendidikan," ujarnya.

Proses pendidikan yang dimaksud Nobi adalah pendidikan di rumah tangga sampai pendidikan formal yang mengajarkan prinsip-prinsip keadilan, toleransi, saling menghargai, multikulturalisme dan seterusnya.

"Yang kedua adalah gerakan deradikalisasi, dimana objeknya yakni para pelaku baik yang di penjara atau masih berada di tengah masyarakat, perlu dilakukan dialog, reintegrasi sosial, rehabilitasi ekonomi dan sebagainya," kata Novi.

Intinya bahwa semua pihak harus menghindari diri dari sikap melakukan kekerasan serta mengganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat, ucap Novi Hendri.

Di Sumbar atau Bukittinggi , beberapa waktu sebelumnya pernah terjadi beberapa kali penangkapan terduga teroris oleh Densus 88, sehingga ia menilai pemerintah mesti mencegah hal ini terjadi.

(*)

Editor: Rizal Endra